Bacaan: Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:161-168; Matius 11:20-24.
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. (Yeremia 18:4).
Renungan:
Shalom Bapak Ibu Saudara terkasih dalam Yesus Kristus.
Ketiga bacaan hari ini memiliki benang merah yang sama: Allah mencari hati yang mau dibentuk dan taat kepada firman-Nya.
Dalam Yeremia 18, nabi Yeremia diperintahkan pergi ke rumah tukang periuk. Di sana ia melihat bejana yang rusak di tangan pembuatnya. Bejana itu tidak dibuang, tetapi dibentuk kembali menjadi bejana lain yang dianggap baik oleh tukang periuk. Melalui gambaran ini, Allah menyatakan bahwa seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah umat-Nya berada di tangan-Nya. Allah berkuasa membentuk kembali kehidupan yang mau diserahkan kepada-Nya.
Mazmur 119 memperlihatkan sikap hati yang demikian. Pemazmur berkata bahwa ia mencintai Taurat Tuhan dan menemukan damai sejahtera di dalam firman-Nya. Sekalipun menghadapi tekanan dan penganiayaan, ia tetap setia menaati perintah Tuhan. Ketaatan bukanlah beban, melainkan ungkapan kasih kepada Allah.
Sebaliknya, Injil Matius menceritakan teguran Yesus kepada kota-kota yang telah menyaksikan banyak mukjizat tetapi tidak bertobat. Mereka melihat kuasa Allah, namun hati mereka tetap keras. Mukjizat tidak membawa perubahan hidup karena mereka menolak membuka hati.
Ketiga bacaan ini mengajak kita bercermin. Tuhan mungkin telah berkali-kali menolong, mengampuni, dan menuntun kita. Kita mendengar firman setiap minggu, membaca Alkitab setiap hari, dan menikmati penyertaan-Nya.
Pertanyaannya bukanlah seberapa banyak kita mengetahui tentang Tuhan, melainkan apakah hidup kita semakin dibentuk oleh-Nya.
Tanah liat yang lembut dapat dibentuk menjadi bejana yang indah. Hati yang mengasihi firman akan menikmati damai sejahtera. Namun hati yang keras, meskipun melihat banyak karya Tuhan, akan kehilangan kesempatan mengalami pembaruan.
Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk kembali menjadi “tanah liat” yang rela dibentuk. Tidak ada kehidupan yang terlalu rusak bagi Allah. Yang Ia kehendaki adalah hati yang rendah, mau bertobat, dan siap mengikuti kehendak-Nya.
Doa:
Bapa yang penuh kasih, Engkaulah Tukang Periuk yang membentuk hidup kami. Ampunilah kami ketika hati kami menjadi keras dan menolak teguran-Mu. Lembutkan hati kami agar kami rela dibentuk sesuai kehendak-Mu. Tanamkan kecintaan kepada firman-Mu sehingga kami hidup dalam ketaatan dan damai sejahtera. Jadikan hidup kami bejana yang berguna untuk kemuliaan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin. (Yuli Astantin – Yogyakarta).






