Bacaan: Roma 7:1-6.
Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat. (Roma 7:6).
Renungan:
Nampaknya masih banyak di antara orang percaya yang terjebak dalam pola pikir bahwa kehidupan rohaniahnya dijalani dengan mengutamakan ketaatan terhadap aturan-aturan lahiriah. Aturan-aturan lahiriah itu dimaknai sebagai aturan-aturan cara hidup yang tertulis dalam Kitab Suci dengan fokus kepada Sepuluh Perintah Tuhan atau yang sering disebut sebagai hukum Taurat. Akibat dari pola hidup yang mengutamakan ketaatan terhadap aturan-aturan lahiriah cenderung menjadikan kehidupan iman terasa kaku, kering, dan kehilangan sukacita.
Rasul Paulus melalui bacaan Kitab Suci pagi ini justru menekankan bahwa kehidupan Kristen bukan sekadar soal hukum dan kewajiban mentaatinya, melainkan hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus. Paulus menjelaskan bahwa melalui Kristus, kita telah dibebaskan dari ikatan hukum Taurat (ayat 6). Mengapa kita telah dibebaskan dari ikatan hukum Taurat? Paulus memberikan penegasan, bahwa kita juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus yang telah mati di kayu salib, sehingga kita tidak dikurung dalam hukum Taurat. Karena itu sesungguhnya kita telah menjadi milik Kristus yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah (ayat 4).
Saudaraku yang terkasih, jadi sudah sangat jelas, bahwa hidup kita para murid Kristus tidak lagi ditentukan oleh daftar perintah dan larangan sebagaimana tertulis dalam hukum Taurat dan kitab para nabi, tetapi kita hidup oleh karena kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada kita. Roh Kudus hadir untuk memampukan kita melakukan kehendak Allah, bukan dengan keterpaksaan, tetapi dengan penuh kesadaran, kerelaan, dan kasih. Dengan demikian, sikap, perkataan dan tindakan kita bukan karena keterpaksaan mematuhi aturan, melainkan buah dari kehidupan baru di dalam Roh Allah.
Maka dari itu, dalam kehidupan sehari-hari kita perlu membuka hati terhadap suara Roh Kudus yang menuntun kehidupan kita. Ketika kita masih terjebak dalam rasa benci kepada orang lain, maka kita bukan sekadar menahan diri untuk tidak membenci karena hal ini tidak sesuai aturan lahiriah hukum Taurat, tetapi menjadi kemestian bagi kita untuk mebiarkan Roh Kudus menumbuhkan rasa cinta kasih dalam hati kita. Kita tidak hanya berusaha “tidak berbohong” karena hal ini melanggar perintah Tuhan, tetapi mari kita membiarkan Roh Kudus mengajar kita untuk hidup dalam kejujuran.
Hidup Kristen sesungguhnya bukan soal ketertundukan terhadap aturan yang mengikat, tetapi hidup Kristen adalah hidup dalam pimpinan Roh yang menghidupi. Hidup yang dipimpin Roh selalu memampukan kita melampaui sekadar aturan. Hidup yang dipimpin Roh menghasilkan karakter Kristus yang nyata dalam sikap, perkataan dan perbuatan kita.
Doa:
Tuhan Allah Bapa Sorgawi, terima kasih pagi ini telah Tuhan ingatkan agar kami tidak menjalani hidup hanya sekadar mematuhi aturan-aturan lahiriah yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi Engkau telah ingatkan kami agar kami hidup menundukkan diri dalam pimpinan Roh Kudus. Karena itu, kami serahkan laku hidup kami dalam pimpinan Roh Kudus. Amin. (Andriyani Widyaningtyas – Kulwo).






