Menghadirkan Damai Sejahtera dalam Kebhinekaan

Bacaan: Kisah Para Rasul 15:1-21.

“Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman.” (Kisah Para Rasul 15:8-9).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan yang melekat pada lambang negara kita Garuda Pancasila. Makna dari Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetapi tetap satu. Jika kita runut dari sejarahnya, semboyan ini diambil dari kalimat yang tertulis dalam kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular pada jaman Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14.

Dalam kitab Sutasoma, istilah Bhinneka Tunggal Ika tertulis pada pupuh 139 bait 5. Kutipan lengkap dalam Bahasa Sansekerta adalah: Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wisma, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia sebagai berikut: Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimana bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tapi tetap satu jua, seperti tidak ada kerancuan dalam kebenaran.  

Apa yang ditulis oleh Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma ini menjadi gambaran nyata situasi masyarakat Majapahit waktu itu. Sutasoma mencatat adanya toleransi masyarakat Hindu dan Buddha yang hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Dari kitab Sutasoma kita mendapatkan kesimpulan, bahwa meskipun Hindu dan Buddha merupakan dua ajaran yang berbeda, namun perbedaan tersebut tidak menimbulkan perpecahan karena kebenaran Hindu dan Buddha bermuara pada kebenaran yang “satu”.

Bapak, Ibu, Saudaraku terkasih, dari perikop bacaan Kisah Para Rasul pagi ini kita juga belajar bagaimana persidangan jemaat mula-mula di Yerusalem membahas dan menyelesaikan sengketa yang sengit apakah orang bukan Yahudi harus disunat dan menaati hukum Musa untuk diselamatkan. Pertemuan di Yerusalem ini dipimpin oleh para rasul dan para penatua jemaat berpokok dari perdebatan di jemaat Antiokhia antara Paulus, Barnabas, dan kelompok Farisi yang percaya kepada Kristus.

Dari bacaan ayat 1 -5, kita mendapati fakta adanya pertentangan di jemaat Antiokhia, di mana orang-orang dari Yudea mengajarkan bahwa sunat menurut adat Musa wajib untuk keselamatan. Namun Paulus dan Barnabas menentangnya, lalu keduanya diutus ke Yerusalem untuk menyelesaikan masalah ini. Melalui persidangan jemaat di Yerusalem, kita mendapati pandangan Petrus (ayat 6-11), di mana Petrus mengingatkan bahwa Allah telah mengaruniakan Roh Kudus kepada orang bukan Yahudi tanpa membedakan. Petrus menegaskan bahwa keselamatan diperoleh karena kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, bukan beban hukum Taurat.

Dari persidangan di Yerusalem tersebut, kita juga mendapati bagaimana Paulus dan Barnabas bersaksi tentang berbagai mukjizat dan tanda yang Allah adakan di antara bangsa-bangsa lain. Kita juga mendapati, bagaimana Yakobus menguatkan dan menegaskan apa yang dipersaksikan Paulus dan Barnabas (ayat 13-21).

Saudaraku terkasih, perbedaan adalah fitrah dalam kehidupan umat manusia. Karena manusia tercipta beragam dalam bentuk, suku, bahasa, dan pemikiran sebagai ketetapan Allah. Perbedaan bukan saja dalam lingkup masyarakat bangsa dan negara, yang dari ragam suku bangsa, adat tradisi, dan agama serta kepercayaannya. Bahkan dalam satu rumah tangga keluarga pun keragaman dan perbedaan itu sudah ada dan kita hadapi dalam kenyataan kehidupan.

Dari kisah persidangan jemaat mula-mula di Yerusalem dalam bacaan pagi ini, kita diteguhkan oleh firman Tuhan, bahwa Allah yang memanggil menjadi orang percaya, dan Dialah yang mengatasi setiap keberagaman yang terjadi dalam setiap manusia. Oleh karena itu, dalam keberagaman ini, manusia mesti mampu berhikmat agar saling mengenal, belajar, dan melengkapi satu sama lain, bukan untuk saling bermusuhan atau memaksakan kehendak satu sama lain. (Joko Yanuwidiasta – Kulwo).

 

 

Pos terkait