Bacaan: Yehezkiel 12:17–28; Mazmur 25:1–9; Yakobus 4:11–16.
“Beritahukanlah kepadaku jalan-jalan-Mu, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.” (Mazmur 25:4).
Renungan:
Ada kalanya kita datang kepada Tuhan bukan untuk mencari jalan, melainkan untuk meminta Tuhan memberkati jalan yang sudah kita pilih. Rencana telah disusun, tujuan telah ditentukan, bahkan masa depan sudah dibayangkan. Doa kemudian menjadi permohonan agar semuanya berjalan seperti yang kita kehendaki. Padahal iman justru mengajak kita mengambil jarak sejenak dari keinginan sendiri. Yehezkiel 12 memperlihatkan bagaimana umat Israel menganggap penglihatan tentang penghukuman masih jauh, sementara Tuhan menegaskan bahwa waktunya sudah dekat (Yeh. 12:22–25). Di sana kita belajar bahwa perkiraan manusia tidak selalu sama dengan kehendak Tuhan. Percaya kepada Tuhan berarti bersedia menerima bahwa jalan-Nya mungkin berbeda dari jalan yang kita bayangkan.
Daud menunjukkan sikap yang lebih dalam seperti ditunjukkan melalui Mazmur 25. Ia tidak pertama-tama meminta agar rencananya berhasil, tetapi meminta agar Tuhan menunjukkan jalan. “Beritahukanlah kepadaku jalan-jalan-Mu” (Mzm. 25:4). Ia melanjutkan, “Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku dan tuntunlah aku dalam kebenaran-Mu” (Mzm. 25:5). Ada kerendahan hati dalam doa tersebut, seperti aku mempunyai keinginan, tetapi aku tidak selalu tahu mana yang terbaik. Kita tetap perlu mempunyai cita-cita, bekerja, belajar, membangun kehidupan, dan merencanakan masa depan. Namun di tengah semua itu, kita perlu bertanya apakah yang sedang kita kejar sungguh sejalan dengan kehendak Tuhan? Berserah bukan berarti berhenti berusaha. Berserah berarti tetap melangkah sambil memberi ruang bagi Tuhan untuk mengoreksi arah kita.
Yakobus 4 membawa persoalan ini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Manusia membuat rencana untuk bepergian, berdagang, bekerja, dan mendapatkan keuntungan. Tidak ada yang salah dengan membuat rencana. Yang perlu dikoreksi adalah sikap ketika manusia merasa seolah-olah hari esok sepenuhnya berada di tangannya. Yakobus mengingatkan bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, sebab hidup manusia seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yak. 4:14). Karena itu ia berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu” (Yak. 4:15). Kalimat tersebut bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan pengakuan bahwa hidup, kesempatan, dan hasil akhirnya tetap berada dalam tangan Tuhan.
Di titik inilah iman menjadi sesuatu yang dapat dilihat. Iman tidak hanya terdengar dalam doa atau pengakuan kita di gedung gereja. Ia tampak dalam cara kita bekerja, berbicara, menggunakan uang, memperlakukan sesama, menghadapi konflik, dan memikul tanggung jawab. Yakobus bahkan mengingatkan bahwa mengetahui apa yang baik tetapi tidak melakukannya adalah dosa (Yak. 4:17). Dalam budaya Jawa dikenal ungkapan eling lan waspada, mengingat dan menyadari, sekaligus berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Ungkapan ini bukan ajaran Kristen, tetapi dapat menjadi jembatan untuk mengingatkan kita bahwa manusia memiliki keterbatasan. Kita boleh mempunyai mimpi yang besar, tetapi jangan sampai rencana membuat kita lupa bahwa kita bukan penguasa atas hari esok.
Maka pertanyaan iman kita hari ini bukan hanya, “Apa yang ingin saya capai?” tetapi juga, “Apakah saya bersedia diarahkan oleh Tuhan?” Ketika Tuhan membuka jalan sesuai harapan, kita belajar bersyukur. Ketika jalan berubah, kita belajar percaya. Ketika rencana tertunda, kita belajar menunggu. Dan ketika sesuatu tidak terjadi seperti yang kita inginkan, kita belajar untuk kembali berkata bersama Daud, “Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku” (Mzm. 25:4–5). Iman yang berjalan bukanlah iman yang pasif dan tanpa rencana. Ia adalah iman yang berani melangkah, bekerja, dan memperjuangkan yang baik, tetapi tetap menyediakan ruang bagi Tuhan untuk menunjukkan arah. Sebab pada akhirnya, yang kita perlukan bukan sekadar jalan yang sesuai dengan keinginan kita, melainkan hati yang bersedia berjalan di jalan yang Tuhan tunjukkan. (Yudistira WP – Kulwo).



