Bacaan: Hakim-hakim 17:1-6, Mazmur 96:1-9, 3 Yohanes 1: 9-12.
“Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah; barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.” (3 Yohanes 1:11).
Renungan:
Hakim-hakim 17:1-6 mengisahkan potret buram mengenai kemerosotan moral, rohani, dan sinkretisme agama yang terjadi di Israel setelah era Yosua berakhir. Kisah ini membuka bagian penutup kitab Hakim-hakim yang menyoroti betapa kacaunya kehidupan bangsa Israel ketika mereka tidak lagi setia pada hukum Tuhan. Tanpa kepemimpinan rohani yang kuat atau raja yang menegakkan keadilan (dan terlebih lagi, karena mereka menolak TUHAN sebagai Raja sejati mereka), kebenaran menjadi hal yang relatif. Setiap individu mendefinisikan moralitas dan cara beribadah sesuai standar ego mereka masing-masing.
Mazmur 96:1-9 merupakan sebuah nyanyian syukur liturgis dan seruan universal yang mengajak seluruh bumi untuk memuji TUHAN karena keagungan, kedahsyatan, dan perbuatan ajaib-Nya. Alkitab mencatat bagian ini sebagai panggilan ibadah bagi segala suku bangsa untuk mengakui kedaulatan Allah di atas segala ilah dunia.
Poin utama dari bacaan 3 Yohanes 1: 9-12 adalah sikap buruk dari Diotrefes yang ingin menjadi orang nomor satu atau tampil paling terkemuka di jemaat, menolak otoritas dan ajaran dari Yohanes, mengeluarkan perkataan kasar dan menolak kedatangan saudara-saudara seiman yang bepergian melayani, melarang orang lain menerima mereka serta mengucilkan anggota jemaat yang tetap ingin berbaik hati.
Ayat 11 mengingatkan agar umat tidak meniru perbuatan jahat yang egois dan sombong, orang yang melakukan kebaikan membuktikan bahwa ia terhubung dan berasal dari Allah. Ayat 12 menunjukkan bahwa Demetrius sebagai contoh nyata yang berlawanan dengan Diotrefes. Ia memiliki kesaksian hidup yang sangat baik diakui oleh jemaat dan selaras dengan kebenaran
Kini semakin nyata, banyak orang mencari pembenaran diri, mendefinisikan moralitas dan cara beribadah sesuai standar buah pikir dan nalar masing-masing demi kepentingan ego memuaskan diri, jauh dari kebenaran sejati yang dari Allah. Marilah kita berbalik menuju kehidupan yang sepenuhnya mengajak alam semesta menyembah dan memuliakan Dia yang Maha Baik melalui kehidupan yang penuh pengakuan akan kedaulatanNya, agar kita dimampukan melihat Allah.
Selamat mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama dengan sepenuh hati. Tuhan memberkati kita semua!
Doa:
Tuhan, bimbinglah kami agar tak sesat pikir dan sesat jalan. Mampukanlah kami untuk berjalan menurut petunjuk kebenaran Firmanmu. Bimbinglah kami agar bisa rendah hati dan hanya mengagungkan kebesaran dan kuasaMu. Bimbinglah kami agar tak lupa akan kedaulatanMu atas kehidupan kami. Kami rindu tuk selalu melihatMu lebih dekat. Amin. (Hargo Warsono – Ngringin).






