Bacaan: Yohanes 10:1-10.
Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. (Yohanes 10:9).
Renungan:
Jemaat yang dikasihi Tuhan, hampir setiap orang hari ini punya HP atau smartphone. Untuk membukanya, kita butuh akses yang tepat entah itu password, sidik jari, atau face ID. Kalau aksesnya sesuai, HP terbuka dan kita bisa masuk ke dalamnya, mengakses semua yang ada di dalam. Tapi kalau tidak sesuai, kita tetap berada “di luar”. Kita pegang HP-nya, tapi tidak bisa masuk. Sederhana, tapi, ada perbedaan antara “memiliki” dan “bisa masuk”.
Dalam Yohanes 10:9, Yesus berkata, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” Untuk memahami kalimat ini, kita perlu melihat konteksnya. Dalam dunia Palestina kuno, kandang domba sering kali hanya pagar batu dengan satu celah sebagai pintu. Pada malam hari, gembala sendiri akan berbaring di celah itu. Ia menjadi “pintu.” Tidak ada domba yang bisa keluar tanpa melewati dia, dan tidak ada bahaya yang bisa masuk tanpa berhadapan dengannya. Jadi ketika Yesus berkata, “Akulah pintu,” Ia tidak sedang berbicara tentang benda, tetapi tentang perlindungan dan jalan masuk. Melalui Dia, yang tadinya berada di luar dan terancam bahaya, bisa masuk ke dalam tempat yang aman dan terlindungi.
Dalam pendekatan yang lebih reflektif, kita juga melihat bahwa pernyataan ini muncul dalam konteks yang tidak mudah. Dalam Yohanes 9, Yesus berhadapan dengan para pemimpin agama yang memiliki keyakinan kuat tentang jalan kepada Allah, tapi malah menjauhkan orang dari kasih Allah itu sendiri. Dalam terang itu, perkataan Yesus “Akulah pintu” menjadi penegasan bahwa tidak semua jalan membawa kepada kehidupan yang penuh. Yesus bukan sekadar menunjukkan arah, tetapi menghadirkan akses itu sendiri. Yesus lalu menjelaskan dampaknya: “ia akan selamat, ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” Ini gambaran tentang hidup yang aman, bebas, dan tercukupi. “Masuk dan keluar” menunjukkan kebebasan tanpa rasa takut, dan “padang rumput” menggambarkan kehidupan yang dipelihara. Jadi keselamatan dalam Yohanes bukan hanya tentang masa depan, tetapi juga tentang hidup yang dijalani sekarang dengan damai dan kecukupan.
Kembali ke ilustrasi HP tadi. Kita bisa memiliki HP-nya, tetapi tanpa akses yang tepat kita tidak bisa masuk ke dalamnya. Demikian juga dalam hidup rohani. Kita bisa tahu tentang Allah dan menjalani kehidupan beriman, tetapi yang membuat kita sungguh mengalami kehidupan yang penuh adalah ketika kita mau masuk melalui “Pintu yang Sejati”, yakni Tuhan Yesus Kristus; di situlah kasih karunia Allah bekerja, sebab kita tidak membuka jalan sendiri, melainkan Allah yang menyediakannya. Ketika kita masuk melalui Dia, hidup kita sesungguhnya dan semestinya diubahkan. Dari yang semula merasa terancam menjadi lebih aman, dari yang cemas menjadi lebih tenang. Bukan karena semua persoalan tidak ada lagi, tetapi karena kita hidup dalam pemeliharaan Tuhan, seperti domba yang berada di dalam kandang, yakni malam dan gelap tetap ada, tetapi ada di dalam perlindungan Sang Gembala.
Jemaat yang terkasih, kita sekarang ini hidup di tengah begitu banyak “akses” yang serba cepat dan instan. Perkembangan teknologi digital membuka berbagai kemungkinan, tetapi sekaligus menghadirkan risiko yang kompleks. Kita melihat bagaimana pinjaman online dapat menjerat seseorang, praktik judi online menggerus stabilitas hidup, dan berbagai bentuk penipuan digital seperti phishing yang tentu meresahkan. Realitas ini menunjukkan bahwa tidak setiap “pintu” yang terbuka itu mengarah pada kehidupan yang utuh. Karena itu, persoalan kita bukan sekadar memilih, tetapi mengembangkan kepekaan untuk membedakan secara kritis mana yang membangun dan mana yang justru merusak kehidupan. Dalam kerangka ini, pernyataan Yesus sebagai “pintu” menjadi begitu relevan. Ia bukan sekadar alternatif di antara banyak pilihan, melainkan orientasi utama yang menuntun manusia kepada kehidupan yang terpelihara. Iman kepada Kristus, dengan demikian, bukan hanya soal percaya, tetapi cara kita menapaki hidup dengan lebih bijaksana.
Di sisi lain, panggilan iman tidak berhenti pada dimensi personal, tetapi harus mengarah ke dimensi relasional. Ketika kita mengalami hidup yang diubahkan oleh kasih karunia Allah, kita dipanggil untuk menghadirkan kualitas relasi yang serupa bagi orang lain. Menjadi “pintu” dapat dipahami sebagai kemampuan menghadirkan ruang aman bagi sesama. Kita dipanggil agar kehadiran kita memungkinkan orang lain merasa diterima, tidak terancam, dan memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya. Kasih karunia yang kita alami jangan hanya berhenti pada pengalaman batin saja, tetapi mesti terwujud dalam praksis hidup sehari-hari. Kehadiran seperti ini sangat penting di tengah hari-hari ini yang penuh dengan kecemasan, tekanan, dan relasi yang rapuh. Dengan demikian, menjadi “pintu” bagi orang lain bukanlah penggambaran yang abstrak belaka, melainkan panggilan konkret untuk menghadirkan relasi yang memulihkan, yang memungkinkan orang lain merasakan damai dan pemeliharaan Allah melalui kehidupan kita.
Jemaat yang terkasih, pintu itu sudah ada dan terbuka. Maka pertanyaannya, maukah kita masuk, percaya kepada Kristus, dan membiarkan hidup kita diubahkan oleh kasih karunia-Nya?
Doa:
Dimuliakanlah kekal selamanya Engkau ya Tuhan. Begitu besar kasih karunia-Mu bagi kami, sehingga kami boleh merasakan damai sejahtera bukan hanya kini, bahkan selamanya. Maka kami mau untuk menghadirkan damai sejahtera-Mu tersebut bagi dunia ini, sebagaimana telah Engkau lakukan lebih dulu terhadap kami. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).






