Bacaan: Yeremia 17:5–18; Mazmur 17; Matius 12:22–32.
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7).
Renungan:
Syalom Bapak/Ibu Saudara/i terkasih, Nabi Yeremia melalui bacaan pagi ini mengingatkan bahwa hidup yang kokoh tidak ditentukan oleh keadaan yang nyaman, tetapi oleh tempat kita menaruh kepercayaan. Orang yang berharap kepada Tuhan digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi air, sebagai contoh ketika panas datang, ia tetap berbuah karena akarnya memiliki sumber kehidupan.
Kita pun sering merasa aman ketika pekerjaan berjalan baik, keluarga baik-baik saja, dan masa depan sesuai rencana. Namun kehidupan iman mengajak kita bertanya apakah kita tetap percaya ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan? Kepercayaan kepada Tuhan seharusnya menjadi akar yang membuat kita tetap bertumbuh dalam keadaan apa pun.
Dalam budaya Jawa dan Nusantara, kita mengenal gotong royong, termasuk tradisi sambatan ketika masyarakat bersama-sama membantu seseorang menghadapi pekerjaan terlebih yang berat. Kita juga mengenal ungkapan sepi ing pamrih, rame ing gawe yang tertuang dalam Serat Wedhatama, yang kurang lebih menggambarkan sikap tidak berpusat pada kepentingan pribadi, tetapi sungguh-sungguh dalam bekerja dan berbuat. Serat Wedhatama merupakan karya sastra Jawa yang banyak berbicara tentang pembentukan watak dan kehidupan yang baik. Nilai tersebut tentu bukan pengganti Injil, tetapi dapat menjadi cermin, di mana hidup yang bermakna bukan hanya tentang apa yang kita terima, tetapi juga tentang apa yang kita berikan.
Bacaan Mazmur 17 membawa kita lebih dalam, yaitu sebelum melayani, kita perlu membiarkan Tuhan memeriksa hati. Kita bisa melakukan banyak hal tetapi tetap mencari pujian. Karena itu, keluar dari zona nyaman bukan hanya berpindah tempat atau mengambil pekerjaan yang lebih sulit, tetapi juga meninggalkan ego, ketakutan, keinginan untuk selalu aman, dan kebutuhan untuk selalu diakui. Seorang filsuf Aristoteles berbicara tentang virtue sebagai karakter baik yang dibentuk melalui kebiasaan melakukan yang baik.
Dalam iman Kristen, perbuatan baik bukan cara mendapatkan keselamatan, melainkan buah dari iman dan kasih karunia yang telah kita terima. Karena itu, iman yang hidup akan terlihat dalam kebiasaan hidup kita. Melalui bacaan Matius 12, Yesus menunjukkan teladan tersebut. Ia membawa pemulihan kepada seseorang, tetapi justru ditolak dan dituduh oleh sebagian orang. Yesus tidak berhenti melakukan kehendak Bapa hanya karena mendapat penolakan. Ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kepada sesama dan bangsa tidak selalu menghasilkan penghargaan. Ada kritik, kegagalan, dan hasil yang mungkin tidak langsung terlihat. Namun ukuran pelayanan bukanlah seberapa banyak kita dipuji, melainkan seberapa setia kita menjalankan apa yang Tuhan percayakan.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya “apa yang ingin saya capai?”, tetapi juga “apa yang Tuhan percayakan kepada saya untuk diberikan?” Kita tidak perlu menunggu menjadi orang besar untuk berguna. Ilmu, pekerjaan, usaha, waktu, tenaga, pengalaman, dan perhatian dapat menjadi sarana pelayanan. Kita tidak harus menyelesaikan semua persoalan bangsa, kita hanya perlu setia mengerjakan bagian yang Tuhan tempatkan di depan kita.
Pada akhirnya, hati yang percaya akan melahirkan hidup yang melayani. Kita tidak melayani untuk mendapatkan nilai diri dari manusia, tetapi karena Kristus telah terlebih dahulu mengasihi dan melayani kita. Kiranya iman kita tidak berhenti pada apa yang kita yakini dan ucapkan, tetapi terlihat dalam cara kita bekerja, memperlakukan sesama, mengambil keputusan, dan menggunakan apa yang Tuhan berikan. Sebab Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk menerima berkat, tetapi juga menjadikan hidup kita sebagai berkat.
Doa:
Ya Tuhan, teguhkan iman kami kepada-Mu. Jauhkan kami dari ego berlebih yang membuat kami lupa melayani. Pakailah hidup, pekerjaan, dan kemampuan kami menjadi berkat bagi sesama dan bangsa. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin. (Yudistira WP-Kulwo).






