Bacaan: Yesaya 49 : 1 – 7, Mazmur 71 : 1 – 14, 1 Korintus 1 : 18 – 31, Yohanes 12 : 20 – 36.
“ Supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita.” (1 Korintus 1 : 29 – 30a).
Renungan:
Saudara yang terkasih, Tuhan memanggil dan membentuk kita sejak dalam kandungan untuk menjadi hamba-Nya yang membawa terang bagi dunia. Hal ini ditegaskan melalui perkataan Yesaya, “TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku” (Yes 49:1). Tuhan juga berfirman kepada Yesaya, “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa,” (Yesaya 49:6). Yesaya, menjaga hidupnya agar tetap setia dan bergantung pada Tuhan. Terhadap kita, Tuhan pun punya maksud yang sama. Kita diutus menjadi pembawa terang-Nya. Kita hanya mampu melakukannya, saat hidup dalam kerendahan hati untuk mengikuti tuntunanNya. Seperti yang diteguhkan oleh Pemazmur, kita perlu berlindung pada Tuhan, sejak awal hidup kita, apalagi di tengah situasi kelemahan kita. Pemazmur menegaskan, bahwa mereka yang membawa “Terang Tuhan”, perlu menjaga hati tetap, serta bersama pemazmur berseru, “Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda” (Mazmur 71:5).
Saudara yang terkasih, Bagi kita orang kristiani, kekuatan sejati bukanlah kehebatan manusia, melainkan hikmat Allah, “untuk mereka yang dipanggil, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1 Kor 1:24). Hikmat Allah itulah Terang yang menuntun jalan kita dan akan selalu memberi kita kekuatan. Yesus memperlihatkan pada kita, bagaimana hidup dengan hikmat Allah. Ia bukan mengejar kemuliaan diri, melainkan kemuliaan sejati. Kemuliaan itu datang melalui penyerahan diri yang penuh dengan kerendahan hati pada kehendak Allah. Saat hati-Nya merasa tertekan menghadapi salib, Yesus tetap memilih taat agar nama Bapa dimuliakan melalui pengorbanan-Nya. Hikmat dari Allah menjadi Terang dalam diri-Nya. Demikian pula kita, dengan tetap mendekatkan hati padaNya, maka terang di hati kita terjaga. Yesus mengatakan, “Aku adalah Terang Dunia” (Yoh 8 : 12) dan Dia pula menegaskan, “Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang” (Yoh 12: 36).
Saudara yang terkasih, Godaan dalam kehidupan sehari-hari adalah ambisi untuk menjadi yang terbesar dan menghindari kesulitan atau tantangan. Padahal, iman kita mengajarkan bahwa makna hidup yang sesungguhnya ditemukan saat kita berani mengabaikan ego demi kebaikan sesama. Inilah sejatinya hidup “Anak Terang”, hatinya tidak dikuasai “kegelapan duniawi”. Setiap tindakan kasih yang tulus dan pengorbanan kecil adalah cara nyata untuk menghadirkan wajah Tuhan di tengah dunia. Renungan ini memanggil kita untuk memahami bahwa jalan menuju kemuliaan Allah adalah lewat jalan salib dan kerendahan hati untuk menjaga “Sang Terang” tetap bersinar dalam hati kita. Di mata Tuhan, kesetiaan hati manusia amat berharga. Kita diajak untuk berhenti mengandalkan diri sendiri dan mulai bersandar sepenuhnya pada hikmat Allah, di situlah hidup kita mulai menghasilkan buah yang kekal. Jadilah “terang” bagi sesamamu.”
Doa :
Tuhan Allah Bapa kami yang bertahta di dalam Kerajaan Surga Yang Maha Mulia, perkenakan kami mengucap Syukur, dimana Tuhan telah membuka mata hati kami, bahwa kami harus rendah hati dan setiya mengikut Engkau dimana Engkau sebagai terang dunia, bimbinglah kami untuk menjadi saksimu di dalam dunia yang gelap dan penuh tantangan ini. berikan lah hikmat-Mu kepada kami sehingga kami mampu menerangi dunia dimana kami berada sehingga saudara kami yang keras hati akan lunak tidak memegahkan diri tetapi setia dan rendah hati di hadapan -Mu dan di hadapan sesama kami. Demikianlah doa kami di dalam Tuhan Yesus kami berdoa dan mengucap syukur. Amin …! (Marinah Sudiro – Karanganom).






