Hikmat, Pengharapan, dan Kemerdekaan yang Sejati

Bacaan : Amsal 3:13 –18, Mazmur 102:1–17, Yohanes 8:31–38.

Berbahagialah orang yang memperoleh hikmat. (Amsal 3:13).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Shalom Bapak Ibu Saudara terkasih dalam Yesus Kristus..

Seperti yang penulis Amsal pernah ajarkan, hikmat digambarkan lebih berharga daripada emas atau perak. Ia bukan sekadar pengetahuan, tetapi cara hidup yang selaras dengan kehendak Tuhan ,yang membawa damai, umur panjang, dan kebahagiaan sejati. Apakah kita lebih mengejar keberhasilan dunia atau hikmat dari Tuhan dalam setiap keputusan? Mari kita bersama-sama bisa merenungkan dengan pertanyaan di atas.

Pemazmur mencurahkan kesedihannya dengan jujur kepada Tuhan. Ia merasa lemah, kesepian, bahkan seperti dilupakan. Namun di tengah ratapan itu, ia tetap percaya bahwa Tuhan akan mendengar dan memulihkan Sion. Tuhan tidak menolak doa yang penuh air mata. Dalam masa sulit, kita diajak tetap berharap karena Tuhan setia mendengar.

Yesus Kristus berkata bahwa jika kita tetap dalam firman-Nya, kita akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kita. Banyak orang merasa bebas, tetapi sebenarnya diperbudak oleh dosa. Kemerdekaan sejati hanya ditemukan dalam hubungan dengan Kristus. Carilah hikmat Tuhan melalui doa dan firman, bukan hanya mengandalkan pengertian sendiri. Jangan ragu membawa setiap pergumulan  kepada Tuhan …”Dia mendengar”.

Hidup dalam kebenaran Kristus akan membawa kebebasan sejati, bukan sekadar kebebasan lahiriah. Apakah kita sungguh hidup dalam firman Tuhan, atau masih terikat oleh dosa, kebiasaan buruk, dan cara pikir lama? Dalam realita kehidupan sehari-hari seseorang tahu marah berlebihan itu tidak baik, tapi tetap melakukannya berulang kali. Mungkin merasa “bebas jadi diri sendiri”, tapi sebenarnya sedang diperbudak emosi.

Kebenaran dari Yesus Kristus: Saat ia mulai hidup dalam firman (belajar mengampuni, mengendalikan diri), perlahan akan dibebaskan dari kebiasaan buruk. Saat lelah atau tertekan, jangan menjauh dari Tuhan justru datang dengan apa adanya, Saat merasa sendirian → ingat: Tuhan tetap hadir, saat doa terasa tidak dijawab → tetap percaya Tuhan mendengar, saat hidup terasa berat → jangan berhenti berdoa.

Doa :

Tuhan, Engkau tahu setiap rasa lelah dan air mata kami. Ajar kami tetap datang kepada-Mu dengan jujur, dan kuatkan kami untuk berharap pada kesetiaan-Mu.  “Tuhan, ajar kami mengejar hikmat-Mu lebih dari segalanya. Dalam kesesakan, mampukan kami tetap berharap kepada-Mu. Dan tuntunlah kami hidup dalam kebenaran-Mu agar  mengalami kemerdekaan sejati. Amin. (Yuli Astantin – Banguntapan).

 

 

 

Pos terkait