Bacaan: Keluaran 3:16–22; 4:18–20.
Tetapi Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir dengan segala perbuatan yang ajaib, yang akan Kulakukan di tengah-tengahnya; sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi. (Keluaran 3:20).
Renungan:
Dalam kehidupan, ada saat-saat di mana kita dipanggil untuk melakukan sesuatu yang tidak mudah. Mungkin itu keputusan besar, tanggung jawab baru, atau bahkan menghadapi situasi yang menakutkan. Kisah Musa dalam bagian ini mengajarkan kita bahwa ketika Tuhan memanggil, Dia juga menyertai.
Pada Keluaran 3:16–22, Tuhan berbicara kepada Musa dan memberinya tugas yang sangat besar: kembali ke Mesir untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan. Ini bukan tugas yang ringan. Musa harus menghadapi Firaun, penguasa yang kuat, dan berbicara atas nama Tuhan. Namun, Tuhan tidak hanya memberi perintah, tetapi juga janji. Tuhan berkata bahwa Dia melihat penderitaan umat-Nya, mendengar tangisan mereka, dan berjanji akan membawa mereka keluar menuju tanah yang baik.
Lalu, dalam Keluaran 4:18–20, Musa mulai melangkah. Setelah bergumul dan bahkan sempat ragu, akhirnya Musa taat. Ia kembali kepada mertuanya, meminta izin, lalu membawa keluarganya dan kembali ke Mesir. Ini adalah langkah iman. Musa meninggalkan zona nyamannya untuk mengikuti panggilan Tuhan.
Ketaatan Musa ini sangat penting. Ia tidak menunggu semuanya jelas atau mudah. Ia melangkah meskipun mungkin masih ada rasa takut. Ini seringkali menjadi tantangan bagi kita. Kita ingin kepastian penuh sebelum melangkah. Kita ingin semua risiko hilang terlebih dahulu. Namun iman justru berarti melangkah bersama Tuhan, meskipun jalan di depan belum sepenuhnya terlihat.
Menariknya, Tuhan juga berkata bahwa Dia akan menyertai Musa dan membuat rencana-Nya terjadi. Bahkan Tuhan sudah mengetahui bahwa Firaun akan menolak pada awalnya. Artinya, Tuhan tidak menjanjikan jalan yang selalu mudah, tetapi Dia menjanjikan penyertaan-Nya. Ini penting: hidup bersama Tuhan bukan berarti tanpa masalah, tetapi berarti kita tidak pernah sendirian.
Ada satu hal lagi yang menarik dalam bagian ini. Tuhan mengatakan bahwa bangsa Israel tidak akan keluar dari Mesir dengan tangan kosong. Mereka akan membawa harta dari orang Mesir. Ini menunjukkan bahwa Tuhan bukan hanya membebaskan, tetapi juga memulihkan. Tuhan sanggup mengubah penderitaan menjadi berkat.
Dalam kehidupan kita, mungkin ada masa-masa sulit yang terasa seperti “perbudakan”entah itu masalah ekonomi, tekanan pekerjaan, konflik keluarga, atau pergumulan pribadi. Kisah ini mengingatkan bahwa Tuhan sanggup membawa kita keluar. Bahkan lebih dari itu, Dia dapat memulihkan apa yang hilang dan memberikan berkat di tengah proses.
Hari ini, mungkin Tuhan sedang mengajak kita untuk mengambil langkah tertentu, misalnya mengampuni seseorang, memulai sesuatu yang baru, atau kembali kepada-Nya. Jangan takut. Seperti Musa, kita mungkin merasa tidak layak atau tidak siap. Namun Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, melainkan orang yang mau taat. (Elisabeth Lasmiyati – Kulwo).
