Bacaan: Wahyu 2:8-11.
Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. (Wahyu 2:10).
Renungan:
Sudah menjadi hal yang jamak dan dianggap menjadi kebenaran ketika orang menjadi takut terhadap penderitaan. Juga menjadi semacam kesadaran naluriah pada umumnya ketika orang menjadi takut miskin, takut berhadapan dengan kesulitan atau tantangan atau kendala dan sebagainya. Kita sebagai orang percaya, umat milik Allah terkadang juga terbuai pada mimpi indah, bahwa jalan hidup yang bakal kita lalui adalah jalan yang mulus tanpa kerikil tajam.
Bahkan bisa saja kita terbawa pada mimpi yang menyesatkan bahwa menjadi anak-anak Allah akan terbebaskan dari kesulitan, tantangan, dan penderitaan hidup. Hidup menjadi anak-anak Allah dipahami seolah seperti perjalanan wisata yang naik kendaraan yang bagus, kaki kita bakal mulus karena tidak mungkin tersandung batu di jalan terjal apalagi rusak.
Bacaan Kitab Wahyu pagi ini mengingatkan pandangan dan sikap kita yang baik dan benar terhadap penderitaan yang terjadi dalam kehidupan. Penulis Kitab Wahyu menyebutkan bahwa jemaat Smirna telah menjadi teladan melalui ketaatan dan keteguhannya dalam beriman meskipun menghadapi penderitaan hidup yang begitu mendera. “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu, namun engkau kaya …”, demikian kesaksian penulis Kitab Wahyu pada ayat 8.
Mengapa jemaat Smirna kehidupannya mengalami penderitaan hebat, berupa kemiskinan, penganiayaan, dan terancam hukuman mati? Smirna pada jaman Kitab Wahyu ditulis adalah sebuah kota pelabuhan yang makmur di Asia Kecil (sekarang masuk wilayah Turki). Namun, pada waktu itu penderitaan hidup dan kesulitan menjadi kenyataan yang dihadapi jemaat Kristen di sana. Penderitaan ini setidaknya terdapat 3 hal utama yang menyebabkan, yaitu:
- Penolakan Menyembah Kaisar: Kota Smirna adalah pusat penyembahan Kaisar Romawi. Orang Kristen di sana menolak menyembah kaisar dan mempersembahkan korban, karena itu dianggap oleh pemerintah Romawi sebagai pengkhianatan.
- Fitnah Kelompok Yahudi: Jemaat Smirna sering difitnah dan diadukan kepada penguasa Romawi oleh kelompok Yahudi lokal, sehingga mereka kehilangan pekerjaan, dikucilkan, hingga dipenjara.
- Penyembahan Berhala: Lingkungan masyarakat sekitar yang sangat lekat dengan praktik dewa-dewa pagan membuat jemaat tertekan dan harus memilih untuk tidak berkompromi dengan dosa.
Saudaraku terkasih, belajar dari kisah jemaat Smirna, mari kita senantiasa setia dan memegang teguh iman kita selaku umat Tuhan. Menjadi umat milik-Nya dan yang telah diselamatkan kehidupannya tidak berarti kita terbebas dari penderitaan dalam menjalani hidup. Tuhan mengijinkan kita menjalani, melalui, dan melampaui setiap tantangan, kesulitan, kesakitan, bahkan derita hidup yang seolah mendera tiada putus. “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita, …… Hendaklah engkau setia sampai mati, Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (ayat 10). Dengan berpegang teguh menjaaga iman, Tuhan sendiri yang menguatkan dan memampukan. (Tim Adminweb).






