Lembut Hingga Sering Terabaikan

Bacaan: Kisah Para Rasul 10:1-48.

“Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.” (Kisah Para Rasul 10:44).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Dalam keheningan hidup sehari-hari, Tuhan sering menyapa kita melalui suara hati yang lembut. Ia hadir saat kita ragu mengambil keputusan, saat hati tergerak untuk berbuat baik, atau ketika ada bisikan kecil yang mengajak kita berhenti sejenak dan menimbang langkah kita. Suara ini tidak selalu jelas atau kuat, tetapi setia menemani perjalanan iman kita. Firman hari ini mengundang kita untuk memperlambat langkah dan membuka ruang bagi suara yang sering kita dengar, namun jarang kita perhatikan.

Dari Kejadian 3:1–15 diperoleh pelajaran, manusia jatuh ketika suara yang lain terdengar lebih meyakinkan daripada firman Allah. Hati menjadi ragu, dan suara hati yang seharusnya selaras dengan kehendak Tuhan pun terabaikan. Sebaliknya, dalam Kisah Para Rasul 10:44–48, Petrus menghadapi peristiwa yang melampaui pemahamannya: Roh Kudus dicurahkan kepada orang-orang non-Yahudi sebelum baptisan dilakukan. Nurani Petrus terusik, dan ia berkata, “Dapatkah orang mencegah…?” (ayat 47). Ia belajar bahwa Allah tidak dibatasi oleh latar belakang, status, atau urutan ritual, dan suara hati yang digerakkan Roh menjadi penuntun ketaatan.

Suara ini tidak memaksa, tetapi memberi damai ketika ditaati dan kegelisahan ketika diabaikan. Kita mengenalinya saat hati bertanya, “Apakah ini berkenan bagi Tuhan?” Dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan, belajar diam sejenak, mendengar dengan jujur, dan berani taat pada suara hati itulah bentuk iman yang tidak membatasi Allah dengan ukuran manusia.

Doa:

Tuhan, tenangkan hati kami agar kami mampu mendengar bisikan-Mu. Tajamkan nurani kami supaya peka terhadap kehendak-Mu, dan beri kami keberanian untuk taat meski tidak selalu nyaman. Amin. (Rebita Birat Salaga, Kulwo).

 

 

Pos terkait