Bacaan: Matius 18:21-35.
Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Matius 18:22).
Renungan:
Saudara-saudara yang terkasih, peristiwa memilukan pernah terjadi pada 13 Mei 1981. Paus Yohanes Paulus II (pemimpin besar umat Katolik) mengalami percobaan pembunuhan ketika sedang melakukan audiensi umum di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Saat menyapa umat dengan kendaraan terbuka, empat tembakan dilepaskan kepadanya dan dua di antaranya mengenai tubuh Paus. Penembaknya, Mehmet Ali Agca, kemudian ditangkap, sedangkan Paus dilarikan ke Rumah Sakit Gemelli Roma. Setelah sembuh dari lukanya, pada 27 Desember 1983 Paus justru mendatangi Agca di Penjara Rebibbia. Dalam pertemuan itu, Paus menyatakan bahwa ia telah mengampuni orang yang pernah berusaha membunuhnya. Keduanya berbicara selama sekitar 21 menit dan Agca bahkan mencium tangan Paus sebagai tanda hormat. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu kisah yang dikenang tentang betapa luar biasanya sebuah pengampunan.
Saudara-saudara yang terkasih, di lain sisi nampaknya kita harus mengaku bahwa kadangkala mengampuni terasa begitu sulit dilakukan. Kita terlanjur merasa disakiti, maka jadilah enggan mengampuni. Lantas bagaimana menurut Tuhan Yesus?
Bacaan Injil kita hari ini mengisahkan Petrus yang datang kepada Yesus dan bertanya, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (ayat 21). Pertanyaan Petrus sebenarnya menunjukkan bahwa ia sudah merasa memberikan tawaran yang sangat besar. Dalam tradisi para rabi, seseorang pada umumnya diajar untuk mengampuni sampai tiga kali. Petrus menawarkan tujuh kali, dua kali lebih banyak daripada ukuran yang lazim, bahkan menggunakan angka tujuh yang dipandang sebagai angka sempurna. Namun, jawaban Yesus justru melampaui tawaran Petrus. “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (ayat 22). Yesus tentu tidak sedang memberikan rumus matematika bahwa setelah seseorang mengampuni 490 kali, ia boleh mulai membalas. Yang dimaksud adalah pengampunan yang tidak dibatasi oleh hitungan.
Untuk menjelaskan hal tersebut, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki utang sangat besar kepada rajanya. Ia tidak sanggup membayarnya, tetapi raja berbelas kasihan dan membebaskan seluruh utangnya. Masalahnya, setelah menerima pengampunan sebesar itu, hamba tersebut justru tidak mau mengampuni utang kawannya yang jauh lebih kecil. Ia bahkan menangkap dan memenjarakannya. Apa yang hendak ditegaskan Tuhan lewat perumpamaan ini? Orang yang telah menerima pengampunan seharusnya menjadi orang yang mampu mengampuni dengan tulus. Pengampunan yang kita terima dari Allah tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi, tetapi haruslah mengubah cara kita memperlakukan orang lain. Saat ada yang bersalah pada kita, kita harus selalu mengingat bahwa kesalahan kita telah lebih dulu diampuni oleh Tuhan.
Saudara-saudara yang terkasih, firman Tuhan hari ini mengajarkan kita bahwa mengampuni bukan terutama soal seberapa banyak kita sudah memaafkan, tapi tentang hati yang senantiasa rela untuk mengampuni dan tidak lagi dikuasai oleh dendam akan kesalahan orang lain. Kita dipanggil untuk mengingat bahwa kita pun adalah orang-orang yang hidup dari pengampunan Tuhan. Maka, pengampunan yang kita terima dari Tuhan semestinya mengalir dalam cara kita memperlakukan sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, pengampunan bukan berarti membenarkan suatu kesalahan. Kita tetap dapat menegur kesalahan, bersikap tegas, bahkan menempuh jalan yang benar ketika seseorang melakukan kejahatan. Namun, kita tidak perlu menyimpan dendam dan terus-menerus membalasnya. Mengampuni berarti melepaskan hak untuk membalas dan menyerahkan penghakiman kepada Tuhan.
Sesungguhnya pengampunan pun penting bagi diri kita sendiri. Ketika kita menyimpan dendam, sesungguhnya kita terus membawa luka itu ke dalam kehidupan kita dan justru membebani. Orang yang menyakiti kita mungkin sudah tidak lagi hadir, tetapi kesalahannya masih tinggal dalam pikiran dan hati kita. Pengampunan menolong kita melepaskan beban tersebut sehingga kita tidak terus hidup di bawah bayang-bayang kesalahan masa lalu. Di dalam keluarga, kita belajar mengampuni perkataan atau tindakan yang melukai hati. Di dalam kehidupan bergereja, kita belajar mengampuni dengan berusaha memahami bahwa kehidupan gereja terdiri dari berbagai orang yang berbeda dan mungkin tak sesuai bayangan ideal kita. Di tengah masyarakat, kita belajar tidak membalas keburukan dengan keburukan. Kita dapat memperjuangkan kebenaran tanpa harus memelihara kebencian.
Saudara-saudara yang terkasih, mengampuni memang tidak mudah, tetapi itulah jalan yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita. Kita mengampuni bukan karena kesalahan orang lain kecil, melainkan karena kita telah menerima pengampunan Tuhan yang begitu besar. Mengampuni itu hebat, sebab melalui pengampunan kita belajar melepaskan dendam dan menjalani hidup dengan hati yang lebih damai sejahtera. Amin.
Doa:
Kami bersyukur Engkau telah lebih dulu mengampuni kami ya Tuhan. Kami bersedia untuk terus belajar rela dan tulus mengampuni sesama kami. Kami mohon kebijaksanaan dan hati seperti hati Tuhan, agar dapat melaksanakan kehendak-Mu sebagai wujud syukur dan cinta kami pada Tuhan. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).
