Bacaan: Ulangan 28:1-14; Mazmur 92; Efesus 4:17-5:2.
“Yaitu bahwa kamu, sehubungan dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”— Efesus 4:22-24.
Renungan:
Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Efesus 4:17 – 5:2), Rasul Paulus memberikan gambaran yang sangat tajam mengenai perubahan hidup yang radikal. Ia menggunakan metafora pakaian untuk menjelaskan bagaimana seharusnya seorang pengikut Kristus hidup. Kita diminta untuk menanggalkan pakaian kotor dari “manusia lama” dan mengenakan pakaian bersih dari “manusia baru”.
Manusia lama ditandai dengan hidup dalam pikiran yang sia-sia, hati yang tegar, kebodohan, dan dikuasai oleh hawa nafsu yang serakah. Namun, setelah kita mengenal Kristus, cara hidup seperti itu tidak boleh lagi dipertahankan. Menjadi Kristen berarti mengalami pembaruan roh dan pikiran secara menyeluruh.
Paulus tidak hanya memberikan teori, tetapi juga memberikan daftar tindakan nyata dari manusia baru yang siap diaplikasikan sehari-hari:
- Mengganti dusta dengan kebenaran: Berkata jujur kepada sesama.
- Mengelola amarah: Boleh marah, tetapi jangan sampai berbuat dosa dan jangan menyimpan dendam hingga matahari terbenam.
- Bekerja keras: Berhenti mengambil yang bukan hak kita (mencuri) dan mulailah berbagi kepada orang yang berkekurangan.
- Menjaga perkataan: Membuang kata-kata kotor atau gosip, lalu menggantinya dengan kata-kata baik yang membangun rohani sesama.
- Membuang kepahitan: Menjauhkan segala kegeraman, pertikaian, dan fitnah, serta saling mengampuni seperti Kristus telah mengampuni kita.
Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari: Mari kita bayangkan seorang pekerja bernama Budi. Sebelum sungguh-sungguh hidup dalam Kristus (Manusia Lama), Budi memiliki kebiasaan buruk di kantornya. Ia sering ikut bergosip tentang rekan kerjanya saat jam istirahat. Ketika melakukan kesalahan dalam laporan kerja, ia kerap berdusta atau melempar tanggung jawab agar posisinya aman. Jika ditegur oleh atasannya, Budi akan menyimpan dendam dan bersungut-sungut selama berminggu-minggu. Namun, setelah merenungkan firman Tuhan ini, Budi memutuskan untuk mengenakan “Manusia Baru” dalam kesehariannya. Saat ada kesalahan kerja, Budi tidak lagi mencari kambing hitam.
Ia dengan jujur mengakui kesalahannya kepada atasan dan bertanggung jawab memperbaikinya. Saat berkumpul di ruang istirahat dan rekan-rekannya mulai membicarakan keburukan orang lain, Budi memilih untuk diam atau mengalihkan pembicaraan ke hal yang positif. Ia menggunakan lidahnya untuk menyemangati temannya yang sedang stres menghadapi proyek besar. Saat idenya dicuri atau tidak dihargai, Budi merasa sakit hati. Namun, ia mengingat kasih Kristus yang telah mengampuninya. Ia memilih untuk melepaskan pengampunan, tidak membalas dengan kejahatan, dan tetap bekerja dengan sukacita.Melalui tindakan nyata ini, Budi sedang mempraktikkan apa yang tertulis dalam Efesus 5:1-2, yaitu menjadi “peniru Allah” di tempat kerjanya melalui kasih yang nyata. Menjadi Kristen bukan hanya tentang ibadah hari Minggu, melainkan tentang keputusan harian untuk membuang tabiat lama yang merusak dan memakai karakter Kristus yang memulihkan.
Doa:
Ya Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan kami hari ini. Ampunilah kami jika hidup kami masih sering dikuasai oleh amarah, dusta, dan perkataan yang sia-sia. Roh Kudus, berikanlah kami kekuatan untuk menanggalkan tabiat lama kami dan mengenakan manusia baru yang penuh kasih, kejujuran, dan pengampunan. Biarlah hidup kami hari ini dapat menjadi peniru kasih-Mu bagi sesama. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin. (Libowa Estebar – Gunungsari).






