Bacaan: 1 Timotius 5:17-24.
Bukankah Kitab Suci berkata: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,” dan lagi “seorang pekerja patut mendapat upahnya.” (1 Timotius 5:18).
Renungan:
Hidup sering kali seperti sebuah panggung pertunjukan. Ada lampu terang, tepuk tangan, dan sorotan mata. Di atas panggung, semua terlihat rapi dan meyakinkan. Namun penonton jarang memikirkan apa yang terjadi di balik tirai, tempat aktor mempersiapkan diri, kru bekerja tanpa dikenal, dan kesalahan kecil bisa menentukan berhasil atau gagalnya pertunjukan.
Dalam 1 Timotius 5:17–24, Paulus mengingatkan bahwa pelayanan rohani juga hidup di antara panggung dan balik tirai. Para penatua yang melayani dengan sungguh-sungguh layak menerima penghormatan. Tuhan tidak mengabaikan jerih lelah mereka yang setia bekerja, meskipun tidak selalu mendapat tepuk tangan.
Namun Paulus juga menegaskan bahwa panggung rohani tidak boleh menjadi tempat sandiwara. Ketika ada dosa, terutama dalam hidup seorang pemimpin, dosa itu tidak boleh disembunyikan di balik tirai demi menjaga citra. Teguran yang terbuka bukan bertujuan meruntuhkan, tetapi untuk memulihkan dan menjaga kekudusan jemaat.
Paulus lalu mengingatkan Timotius agar berhati-hati dan tidak terburu-buru menilai seseorang. Ada kesalahan yang langsung terlihat di atas panggung, salah dialog, langkah keliru, atau lampu yang mati mendadak. Tetapi ada juga masalah yang baru terungkap setelah beberapa babak berlalu. Demikian pula dengan dosa dan perbuatan baik, waktu akan menyingkapkan keduanya.
Renungan ini menantang setiap kita. Jika kita berdiri di atas panggung pelayanan, siapa kita saat tirai tertutup? Jika kita berada di balik layar, apakah kita tetap setia meski tidak terlihat?
Karena pada akhirnya, ada satu Lampu yang tidak pernah padam mata Tuhan yang melihat panggung dan balik tirai sekaligus. Dan di hadapan-Nya, kejujuran hidup jauh lebih bernilai dari pada pertunjukan yang sempurna. (Rinda Trisnanta – Karanganom).
