Bacaan: Kejadian 28:10-17; Mazmur 106:1-12; Roma 16:17-20
“Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, kemanapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Ku janjikan kepadamu.” (Kejadian 28:15).
Renungan:
Kisah Yakub di Betel (Kejadian 28:10-17) menyadarkan kita bahwa Allah sering hadir bahkan di saat-saat kita merasa paling sendirian, asing, bimbang dan tidak pasti. Di tengah perjalanannya yang penuh rasa takut, Yakub bermimpi melihat tangga yang menghubungkan bumi dan surga, serta mendengar Janji Allah yang tidak pernah meninggalkannya. Tempat yang awalnya hanyalah tempat biasa yang dingin, berubah menjadi “rumah Allah” karena kehadiran-Nya. “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya” (Kej 28:16). Bagi kita pesannya jelas, Allah tidak pernah dibatasi oleh keadaan atau tempat kita; Ia selalu melangkah mendekati kita terlebih dahulu. Ia menjaga, memberikan pengharapan dan selalu menyertai orang yang dikasihi-Nya.
Bersama Pemazmur (Mzm 106:1-12), kita diajak untuk bersyukur dan mengingat kebaikan serta kesetiaan Allah yang tak tergoyahkan, bahkan kita tidak setia. Pemazmur mengisahkan bagaimana bangsa Israel sering kali lupa akan perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan di Mesir dan bersungut-sungut di Tepi Laut Tebrau, namun Allah tetap menyelamatkan mereka. Di sini, kita disadarkan Allah memang pada hakekatnya adalah kebaikan itu sendiri. Keselamatan dan penyertaan-Nya yang kita terima bukanlah karena kebaikan kita, melainkan karena kasih setia Tuhan yang kekal.
Allah memanggil kita untuk hidup bijaksana dan memelihara keadilan. Paulus (Roma 16:17-20) memberikan peringatan yang tegas, agar kita tak jatuh dalam egoism dan keserahakan diri. Mereka yang seperti ini disebut dengan istilah “melayani perut mereka sendiri”. Dalam perjuangan menjaga kemurnian iman dan perdamaian komunitas, Paulus mengingatkan agar kita tidak jatuh dalam ikatan keinginan daging, ambisi pribadi atau kenyamanan diri sendiri. Apalalagi jika sampai menggunakan nama ajaran rohani bukan untuk memuliakan Tuhan, melainkan untuk memperkaya atau menguntungkan diri sendiri. Hal ini sama dnegan menjauhkan diri dari Tuhan dan mengalami kesesatan.
Melalui renungan ini, kita diingatkan bahwa kehadiran Allah di hati kita membawa kepastian di tengah kerentanan, ancaman, dan kelemahan. Sebagiamana Allah tidak tinggal diam dan menyatakan diri-Nya kepada Yakub sebagai Pelindung, menyelamatkan bangsa Israel karena kasih setia-Nya, dan memberikan jaminan kemenangan atas tipu daya jahat bagi jemaat di Roma, Allah pun tidak akan tinggal diam dalam hidup kita. Kita diundang mengenali kehadirannya dan tetap setia berjalan di jalan-Nya. Penyertaan Allah di masa lalu menjadi fondasi kepercayaan kita hari ini, sehingga kita bisa hidup bijaksana, dan tenang melangkah karena tahu bahwa kemenangan dan damai sejahtera sejati ada di tangan Tuhan.
Doa:
Tuhan Allah Bapa kami yang ber tahta di dalam kerajaan Surga Yang Maha Mulia, perkenankan kami mengucap syukur dan terikakasih engka telah menjanjikan bahwa Engkau akan menyertai kami dan kami akan dilindungi engkau, kemanapun kami pergi, dan Tuhan akan membawa kami kembali ke Jalan- Mu, sebab kami tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Engka janjikan kepada kami .Bereilah kami kemampuan untuk setia mengikuti jalan Tuhan, kuasa Allah bekerja di dalam diri kami melalui Kristus untuk memberi pemulihan dan kekuatan bar, sehingga kami bisa hidup bijaksana, dan tenang melangkah karena tahu bahwa kemenangan dan damai sejahtera sejati ada di tangan Tuhan. Terimakasih ya Tuhan. Amin . ( Sudiro – Karanganom ).



