Trinitas Tak Terbatas

Bacaan: Matius 28:16-20.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (Matius 28:19).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Saudara-saudara, mungkin saja di tiap minggu Trinitas seperti sekarang ini, kita baru “menyadari” kembali tentang kata Trinitas itu. Bisa jadi yang langsung terlintas dalam pikiran adalah “Satu atau tiga; yang benar tiga atau satu?” Hal ini bisa dimengerti. Alasannya, karena pemahaman sekilas tadi adalah pemahaman kita di masa sekarang. Hanya saja, di masa kemunculan Trinitas hingga akhirnya menjadi keputusan bersama, pemahamannya bukanlah seputar hal numerik (angka) seperti tentang satu atau tiga.

Agar tidak terlalu membingungkan bagi kita, berikut adalah penjabaran dari Pokok-Pokok Ajaran (PPA) Gereja Kristen Jawa: “Gereja awal membuat rumusan ketritunggalan Allah dengan maksud, 1) Memberi penalaran dengan bahasa dunia yang berlaku pada zaman itu, mengenai penyelamatan Allah ke atas manusia; 2) Memberi pegangan iman bagi orang-orang percaya pada zaman itu untuk menjalani kehidupannya; 3) Bersaksi kepada dunia tentang penyelamatan Allah ke atas manusia yang telah dialaminya.” Singkatnya, Ketritunggalan Allah pada masa itu adalah upaya manusia memahami Allah dan karyanya, menjadi pegangan iman dalam kehidupannya, dan hal yang perlu diberitakannya kepada dunia.

Oleh karena itu PPA GKJ menuliskan, bahwa yang perlu dipertahankan adalah latar belakang pengertiannya, yaitu cara Allah melaksanakan penyelamatan-Nya dalam sejarah manusia. Dengan kata lain, ketritunggalan Allah adalah tentang “cara Allah melaksanakan penyelamatan”. Senada dengan hal ini, mendiang Pdt. Andar Ismail (dosen STFT Jakarta) menyebut ketritunggalan Allah dengan “tiga cara berada”. Dari dua hal tadi maka, Ketritunggalan Allah tidak bicara soal jumlahnya berapa, tapi tentang Allah yang menyatakan diri dalam sejarah manusia dan mengerjakan karya penyelamatan.

Namun, apakah dengan rumusan seperti itu kita jadi 100% mengerti dan menguasai misteri Allah? Apakah penjelasan itu memuaskan akal kita? Besar kemungkinan, jawabnya ialah tidak. Ajaran Tritunggal tak akan memuaskan logika manusia. Mengapa? Misteri Allah tidak bisa dipecahkan oleh rumusan atau dogma apa pun, sebab Allah di balik ajaran Trinitas pada hakikatnya adalah tak terbatas. Maka bagian kita bukanlah membela maupun membuktikan mati-matian ajaran Tritunggal ini, apalagi tentang satu atau tiga, melainkan mensyukurinya sebagai sebuah berkat. Melalui ajaran Tritunggal ini kita terhubung dalam satu persekutuan dengan umat Tuhan di sepanjang segala masa. Melalui ajaran Tritunggal ini, kita ditolong memahami dan mendekati Allah yang menyatakan diri itu. Itulah sebabnya, kunci dari ajaran Tritunggal adalah iman dan kasih tulus kepada Allah yang menyatakan diri sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam iman percaya kepada-Nya, kita beroleh damai sejahtera kini dan selamanya.

Saudara-saudara, sekarang bagaimana dengan perikop yang sering dipahami sebagai Amanat Agung ini? Apakah maksud Yesus adalah mengkristenkan orang? Dalam teks aslinya, sebenarnya hanya ada satu perintah dalam satu bentuk verba (kata kerja) murni, yaitu matheteusate. Secara harfiah artinya muridkan. Secara luas, dapat diartikan menolong seseorang belajar dan mempraktikkan suatu ajaran. Sedangkan kata baptislah dan ajarlah merupakan partisip yang menjelaskan bagaimana satu kata kerja murni tadi terlaksana. Ringkasnya, jadikan mereka murid Kristus, baptisan adalah tandanya dan melakukan teladan Kristus adalah bentuknya. Fokusnya bukan pertama-tama perpindahan identitas agama, melainkan proses pembelajaran hidup di bawah teladan dan ajaran Kristus. Jadi pusatnya adalah transformasi hidup, bukan sekadar label keagamaan.

Matius 28:16-20 jelas adalah perintah Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil, tapi Matius 22:37-40 juga adalah perintah Tuhan Yesus untuk mengasihi. Lebih spesifik, mengasihi yang dimaksud adalah agapeseis yang berarti bukan hanya kasih dalam hal perasaan, tapi dengan perbuatan nyata. Apalagi kata yang digunakan untuk “sesamamu manusia” adalah plesion sou, yaitu tetanggamu. Tetangga adalah orang paling dekat secara fisik dan kelihatan dengan mata kita. Ia riil dan konkret. Ini berarti, mengasihi dengan konkrit dan memberitakan Injil memang harus berjalan bersamaan. Kembali mengutip Pdt. Andar Ismail, ia mengatakan “Kelirulah kalau pekabaran Injil dipahami sebagai pengkristenan, sebab pekabaran Injil adalah bersaksi tentang kasih Kristus melalui perbuatan kasih yang konkret, entah dengan atau tanpa perkataan…. Lebih keliru lagi jika pekabaran Injil dipahami sebagai penambahan jiwa. Pekabaran Injil bukan urusan kuantitas yang hasilnya diukur secara numerik, melainkan urusan kualitas perbuatan sebagai murid.”

Yesus menghendaki untuk “jadikanlah segala bangsa murid-Ku”. Pertanyaannya, siapa yang pertama-tama perlu hidup sebagai murid Kristus? Tentu diri kita sendiri. Bukankah tidak relevan bila kita menginginkan orang lain berlaku sebagai seorang murid padahal hidup kita jauh dari kualitas murid yang Yesus kehendaki? Menjadi murid itu berarti mengikuti jalan hidup Yesus dalam perbuatan yang nyata, seperti kepekaan, pengampunan, keadilan, dan perlindungan bagi sesama manusia juga dunia ini.

Saudara-saudara, Matius 28:16-20 bukan terutama sebagai perintah memperbanyak statistik agama, melainkan menghadirkan manusia-manusia yang hidupnya makin menyerupai Kristus. Gereja tentu tetap membaptis dan bersaksi tentang Kristus, tetapi tujuan akhirnya bukan memenangkan label “ agama Kristen,” melainkan membentuk kehidupan yang dibaharui oleh Kristus. Itu sebabnya bagian penutupnya amatlah penting, yaitu “ajarlah mereka melakukan…” Bukan hanya mengetahui, bukan hanya percaya, tetapi melakukan. Amin.

Doa:

Kami bersyukur boleh hidup dalam dekapan cinta kasih Allah Tritunggal Maha Kudus. Engkaulah Allah yang menyatakan diri menyelamatkan dunia dan juga kami. Saat ini kami bersedia lebih lagi untuk mewujudkan dalam perbuatan nyata, yaitu kehidupan sebagai murid seperti yang Engkau kehendaki. Kiranya KerajaanMu ya Allah, boleh semakin tegak di bumi, yakni ketika damai sejahtera-Mu semakin meresapi dan dihidupi oleh semua yang ada di bumi ini. Terpujilah Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus kekal selamanya. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).

 

 

Pos terkait