Bacaan: Yehezkiel 37:1-14.
Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN.” (Yehezkiel 37:14).
Renungan:
Saudara-saudara yang terkasih, kalau mengingat musim hujan yang lalu, ada kalanya matahari di waktu siang tidak nampak karena tertutup oleh awan mendung gelap. Kendati demikian, ketika kita tahu bahwa pada saatnya nanti sinar matahari tersebut akan dapat kita lihat dan rasakan kembali, itulah gambaran sederhana tentang pengharapan. Mendungnya memang ada, tapi bahwa pada saatnya nanti sang surya akan bersinar kembali. Secara ringkas, pesan semacam itulah yang ada dalam bacaan kita hari ini.
Yehezkiel 37:1-14 harus kita baca dalam konteks pembuangan Babel. Tulang-tulang kering seperti tertulis dalam ayat 11 merupakan lambang dari bangsa Israel yang kehilangan harapan. Mengapa? Sebab mereka sedang dalam keadaan “mati” secara sosial, politik, dan religius akibat pembuangan di Babel tersebut. Tercabut dari tanah air sendiri, hidup dalam bayang-bayang penjajahan di tanah asing, dan simbol religius mereka (bait Allah) luluh lantak oleh bangsa Babel. Kendati demikian, melalui firman Allah yang disampaikan oleh nabi dan hembusan Roh Allah, Allah menunjukkan bahwa Ia sanggup membangkitkan kembali umat yang “mati” dan menciptakan masa depan baru bagi mereka.
Oleh karena itu kiranya menjadi jelas bahwa perikop kita ini tidak sedang berbicara tentang kebangkitan orang mati secara individual, melainkan pemulihan suatu bangsa yang hidup dalam krisis dan kehilangan harapan. Ketika manusia sedang dalam keadaan kalut dan hanya mampu melihat keputusasaaan, Allah berkuasa membuka kemungkinan-kemungkinan baru dan menghadirkan kehidupan kembali. Setidaknya 3 hal penting terlihat di sini. Pertama, bahwa penglihatan tentang nafas hidup dan Roh yang diberikan Allah mengingatkan akan kisah penciptaan. Itu berarti bahwa Allah tidak pernah berhenti bekerja dan memelihara, termasuk memulihkan. Kedua, bahwa pemulihan Allah tidak dikerjakan untuk satu orang saja, melainkan suatu bangsa. Ini menyiratkan bahwa kasih Allah bersifat merengkuh dan menyeluruh. Ketiga, pemulihan ini berangkat atas prakarsa Allah sendiri, bukan atas usaha apalagi paksaan manusia. Dengan kata lain, Allah sangat memegang erat janji-Nya kepada umat kepunyaan-Nya. Pengharapan, itulah yang dikerjakan Allah dalam perikop Yehezkiel 37:1-14 yang telah kita baca.
Saudara-saudara yang terkasih, melalui kisah Yehezkiel 37:1-14 ini kita melihat bahwa tidak ada satu keadaan pun yang terlalu berat dan mustahil untuk Allah pulihkan. Allah berkuasa menciptakan masa depan baru ketika manusia sedang hanya mampu melihat keputusasaan dan ketakutan. Kendati demikian kita harus menyadari pula bahwa prakarsa Allah tersebut, dibarengi dengan kesediaan Yehezkiel melakukan apa yang Allah perintahkan. Artinya, pemulihan atas kehidupan ini harus dijalankan bukan hanya oleh Allah saja, tetapi manusia pun mesti berperan aktif di dalamnya.
Oleh sebab itu, di tengah situasi hidup hari-hari ini yang kita hadapi firman Tuhan memanggil kita untuk percaya bahwa Allah berkuasa memulihkan kita semua. Tidaklah perlu kita membandingkan tentang siapa yang lebih berat pergumulan, masalah, dan beban hidupnya. Adakah Allah menghendaki berbuat demikian? Allah mengerjakan pemulihan yang mendatangkan pengharapan. Maka mari kita sungguh-sungguh percaya bahwa kasih Allah yang memulihkan itu ada untuk “mereka, dia, dan juga saya, bahkan dunia ini.”
Berkaitan dengan itu, maka sudah semestinyalah kita menjadi agen-agen yang menumbuhkan pengharapan bagi sesama kita, tepat seperti yang sudah lebih dulu Allah lakukan kepada kita. Apa artinya pengharapan dalam hal ini? Seperti dalam Yehezkiel, tentang menumbuhkan semangat dan daya kehidupan. Maka kita perlu mengatur kata, perbuatan, dan kehadiran kita sedemikian rupa agar dapat menumbuhkan semangat dan daya kehidupan itu dalam diri orang lain. Ambillah contoh, (1) mengutarakan kata-kata yang mengapresiasi ketimbang mencela, (2) hadir mendengarkan orang lain dengan ketulusan dan bukan kepura-puraan. Di sisi lain, kita sendiri pun perlu untuk belajar tidak memendam apa-apa sendirian. Kita harus menyadari bahwa pasti ada orang lain yang juga bersedia menumbuhkan pengharapan bagi kita. Maka kita belajar menemukan orang-orang yang bisa kita percaya mendengarkan hal-hal tertentu yang memang perlu kita utarakan.
Kita tahu bersama, zaman memang semakin maju tapi laju kecepatannya beresiko membuat banyak orang kelelahan dan kehilangan daya hidup. Di sisi lain, kita pun juga tahu bagaimana kondisi bangsa dan negara kita hari-hari ini. Oleh sebab itu, mari kita awali dari persekutuan kita ini, menjadi komunitas dan keluarga yang saling menopang, memulihkan, dan menumbuhkan pengharapan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Doa:
Kami bersyukur atas pengharapan yang terus Engkau kerjakan sampai hari ini ya Tuhan. Tiada sedikitpun dalam kehidupan kami yang terlepas dari cinta kasih-Mu. Kini kami mau untuk terus belajar menumbuhkan pengharapan secara nyata kepada setiap orang yang ada di sekeliling kami. Terpujilah Engkau Tuhan Yesus kekal selamanya. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).






