Bacaan: Markus 11:20-25.
Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah! (Markus 11:22).
Renungan:
Kisah yang terjadi sebelum perikop bacaan Kitab Suci pagi ini terdapat dua peristiwa penting: Pertama, masuknya Yesus ke Yerusalem dengan penuh kemenangan, dan yang kedua adalah pembersihan Bait Suci. Dalam peristiwa pertama, Yesus memasuki Yerusalem sebagai Raja, menunggangi seekor keledai muda, mengungkapkan bahwa Ia adalah Raja Juruselamat yang rendah hati, Raja damai dan kasih. Kemudian, melalui peristiwa kedua yaitu pembersihan Bait Suci, Yesus mengungkapkan bahwa Ia adalah Allah kebenaran, keadilan, dan penghakiman.
Bagian bacaan hari ini terjadi setelah kedua peristiwa ini, dan diikuti oleh penentangan keras dari para pemimpin agama. Ajaran Yesus di sini tidak ditujukan kepada masyarakat umum, tetapi kepada murid-murid-Nya, yang akan menggantikan pelayanan-Nya. Kita perlu memahami ajaran Yesus dalam konteksnya. Hal ini digambarkan oleh apa yang terjadi pada pohon ara. Dalam perjalanan ke Yerusalem dari Betania, sehari setelah masuknya Ia dengan penuh kemenangan, Yesus merasa lapar. Ia berharap menemukan buah di pohon ara. Tetapi tidak ada. Kemudian Yesus berkata, “Semoga tidak seorang pun lagi memakan buah dari pohon ini.” Dan murid-murid-Nya mendengar perkataan-Nya itu.
Apakah Yesus marah kepada pohon ara karena Ia lapar? Tidak. Yesus menggunakan pohon ara yang tidak berbuah sebagai alat bantu untuk mendidik murid-murid-Nya. Yesus memikirkan Bait Suci Yerusalem, yang penuh dengan aktivitas, tetapi tidak produktif — seperti pohon ara yang tidak berbuah. Kemudian pada hari itu, Yesus membersihkan Bait Suci dari para penukar uang dan mereka yang menjual hewan, lalu keluar dari kota lagi.
Keesokan paginya, ketika mereka berjalan, Yesus dan murid-murid-Nya melihat pohon ara itu layu dari akarnya (ayat 20). Petrus terkejut dan berseru, “Rabi, lihatlah! Pohon ara yang Engkau kutuk itu telah layu!” (ayat 21) Menanggapi hal ini, Yesus berkata, “Percayalah kepada Allah” (22).
Biasanya, ketika kita menghadapi masalah yang menantang, kita mengingat perkataan Yesus, “Percayalah kepada Allah,” dan ini membantu kita untuk mengatasinya. Tetapi ada makna yang lebih dalam. Perkataan Yesus bukan hanya nasihat umum, perkataan itu berkaitan dengan keadilan Allah.
Saudaraku terkasih, mari kita renungkan makna mendalam dari perkataan Yesus, “Percayalah kepada Allah.” Mari kita pertimbangkan bagaimana perkataan ini dalam kenyataan hidup kita saat ini. Beriman dan berbuah dalam kehidupan adalah 2 kata yang menyatu tak terpisahkan dalam kenyataan hidup. (Tim Adminweb).






