Bacaan: Yohanes 20:19-31.
Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Yohanes 20:21).
Renungan:
Jemaat yang terkasih, apa jadinya bila suatu tanaman – katakanlah bunga hias kita – dibiarkan beberapa hari tanpa disiram air? Kalaupun mungkin tidak mati, ia tentu akan layu. Namun ketika disiram kembali dan mendaatkan cahaya yang cukup, perlahan-lahan ia dapat pulih. Beberapa waktu lalu sebagian dari kita mengalami hal tersebut, yaitu pada tanaman kacang. Mudah-mudahan dapat pulih kembali. Ini hanyalah suatu penggambaran saja mengenai apa yang terjadi di dalam bacaan kita saat ini.
Diceritakan bahwa para murid sedang berkumpul di sebuah ruang dengan pintu-pintu yang terkunci karena takut. Situasi yang menunjukkan bahwa mereka kehilangan arah dan rasa aman setelah kematian Yesus, sehingga meskipun tetap bersama, mereka hidup dalam keadaan tertutup. Dalam kondisi seperti itu, Yohanes tidak menjelaskan bagaimana cara Yesus masuk, melainkan langsung menegaskan bahwa Ia hadir di tengah-tengah mereka, sehingga perhatian diarahkan pada kehadiran-Nya. Sapaan “Damai sejahtera bagi kamu” yang Yesus sampaikan menjadi tanda pemulihan relasi yang sempat terguncang. Hal ini dipertegas ketika Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya, yang berarti bahwa yang bangkit adalah Dia yang sama yang disalibkan. Dengan demikian, luka tidak dihilangkan tetapi tidak lagi menjadi tanda kekalahan, sehingga para murid yang semula takut berubah menjadi bersukacita karena kembali mengenal Yesus. Dari sini, pengutusan dan pemberian Roh Kudus menunjukkan bahwa pemulihan itu tidak berhenti pada pengalaman batin, tetapi langsung berkaitan dengan tanggung jawab sebagai komunitas yang diutus.
Kisah ini kemudian dilanjutkan dengan pengalaman Tomas, yang tidak hadir pada perjumpaan pertama dan tidak langsung percaya pada kesaksian para murid lain karena ia menginginkan kepastian. Namun ketika ia berjumpa dengan Yesus, ia sampai pada pengakuan, “Ya Tuhanku dan Allahku,” yang menunjukkan bahwa keraguan tidak selalu berakhir pada penolakan, melainkan dapat menjadi bagian dari proses menuju iman. Pernyataan Yesus tentang mereka yang tidak melihat tetapi percaya lalu mengarah kepada para pembaca Injil, termasuk umat percaya masa kini, sehingga penutup Injil ini menegaskan tujuannya, yaitu supaya orang percaya dan memperoleh hidup. Dengan demikian, kebangkitan tidak hanya menjadi peristiwa yang dialami para murid, tetapi menjadi dasar bagi kehidupan iman yang terus berlangsung dalam komunitas orang percaya sampai saat ini.
Jemaat yang terkasih, hari ini kita belajar bahwa kebangkitan Kristus menghadirkan pemulihan yang utuh. Dari ketakutan menuju damai, dari keraguan menuju iman, serta dari sikap tertutup menuju kehidupan yang terbuka dan diutus. Pemulihan ini tidak hanya terjadi secara batin, tetapi juga mengarah pada perubahan arah hidup dan tanggung jawab. Dengan demikian, iman yang lahir dari kebangkitan selalu bergerak dalam relasi yang dipulihkan dan kehidupan yang dijalani secara nyata.
Oleh karena itu, kita diajak untuk tidak terus hidup dalam “ruang tertutup” versi kita sendiri, yaitu menarik diri dari relasi, menghindari tanggung jawab, atau membiarkan ketakutan menguasai keputusan. Ini berarti berani kembali membuka komunikasi yang barangkali sempat terputus, menyelesaikan hal-hal yang selama ini kita tunda, dan tetap melakukan dengan sebaik mungkin peran kita sehari-hari, entah di keluarga, pekerjaan, maupun komunitas. Di sisi lain, kita juga dipanggil untuk tetap berjalan meskipun masih ada keraguan, tidak langsung berhenti atau menjauh saat merasa tidak yakin. Itu artinya, tetap menjalani rutinitas keseharian dengan baik, tetap ambil bagian atau berpartisipasi dalam kehidupan bersama, dan tidak menarik diri dari tanggung jawab hanya karena sedang bimbang ataupun galau. Kita tetap perlu melangkah sambil memprosesnya dalam keseharian, seperti Tomas yang akhirnya sampai pada pengakuan iman setelah mengalami perjumpaan.
Mengikut Kristus yang bangkit berarti ikut ambil bagian dalam karya pemulihan Allah, dengan hidup yang terbuka, percaya, dan setia dijalani dalam keseharian. Amin.
Doa:
Kami bersyukur atas pemulihan yang telah Tuhan kerjakan lebih dahulu bagi dunia ini termasuk kami. Maka sekarang kami mau untuk setia mengikut Tuhan, yang artinya juga ikut dalam karya pemulihan bagi dunia ini. Kemuliaan hanya bagi Tuhan. Amin. (Dnniel Bimantara – Kulwo).
