Bacaan: Filipi 4:10-20.
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:13).
Renungan:
Merasakan cukup mudah untuk dikatakan, namun tidak jarang menjadi suatu hal yang sulit dilakukan. Sebagai contoh, dahulu bisa merasakan tercukupi kebutuhannya dengan penghasilan yang diperolehnya, namun beberapa waktu berselang merasakan bahwa penghasilan yang diperolehnya tidak mampu lagi mencukupi aneka kebutuhan hidup yang semakin bertambah dan harga-harga yang semakin naik.
Dahulu baik-baik saja dan nyaman-nyaman saja memakai motor tua yang setia memenuhi segala kebutuhan bepergian, namun sekarang merasakan tidak terakomodasi dengan motor tua itu. Bisa jadi karena motornya sering rewel minta perbaikan, namun yang sering dirasakan adalah karena merasa motornya yang dipakai sudah ketinggalan jaman, merasa malu motornya sudah butut, gengsi karena tetangga pakai motor baru, dan sebagainya.
Bacaan Kitab Suci pagi ini mengingatkan kita akan pentingnya merasakan cukup, merasakan berkecukupan, atau merasakan berkelimpahan dengan apa yang Tuhan sertakan dalam kehidupan kita. Kesaksian Rasul Paulus dalam pembuka surat kepada jemaat di Filipi yang berisi ucapan terima kasih Paulus kepada mereka ini sesungguhnya mengungkapkan tabir bagaimana rahasia mencukupkan diri dalam segala keadaan, dan bagaimana janji Allah memenuhi keperluan setiap umat-Nya.
Saudaraku terkasih, menjalani hidup yang terus berubah situasi dan kondisinya memang tidak mudah. Diperlukan sikap, semangat, dan siasat jitu untuk mampu mengatasi segala perubahan dan utamanya tantangan melambungnya kenaikan harga aneka kebutuhan hidup. Belajar dari sikap dan tindakan Rasul Paulus, kita sesungguhnya mampu untuk menjalani hidup di tengah perubahan dengan cara merasa cukup, mencukupkan diri dalam segala hal dalam segala situasi.
Agar kita mampu merasa cukup, mencukupkan diri dalam segala hal adalah kita mesti terus memupuk sikap mengucap syukur. Mengucap syukur atas dari perkara-perkara kecil yang Tuhan berikan berkat penyertaan kepada kita. Mengucap syukur dari perkara-perkara kecil itulah yang mampu mengikis perasaan dan egoisme kita yang terkadang membakar hati kita membuat kita memiliki sikap mental merasa berkekurangan, sedikit-sedikit merasa iri, merasa gengsi karena tidak bisa menyamai orang lain yang dipandang menjadi pesaing.
Kita dapat belajar dari Rasul Paulus yang hidup pelayanannya tidak berlebih dalam harta, namun ia tidak merasakan kekurangan. Bahkan ia menyatakan: “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” (ayat 12).
Saudaraku semua, mari kita semua terus melatih diri rasa cukup kita, merasakan berkecukupan dalam segala hal. Berkat Tuhan menyertai dan memampukan kita semua. Amin. (Tim Adminweb).





