Bacaan: Yesaya 6:1-13.
“Dan jika di situ masih tinggal sepersepuluh dari mereka, mereka harus sekali lagi ditimpa kebinasaan, namun keadaannya akan seperti pohon beringin dan pohon jawi-jawi yang tunggulnya tinggal berdiri pada waktu ditebang. Dan dari tunggul itulah akan keluar tunas yang kudus!” (Yesaya 6:13).
Renungan:
Seseorang bisa saja berpikir begini “Ah bohong sekali-kali gapapa, toh hanya kecil kok bohongnya.” Namun, persis di situ pintu menuju kebohongan berikutnya terbuka semakin lebar. Lebih-lebih, bila keadaan sudah amat mendesak dan sulit dihindari, maka “kebohongan kecil” yang dulu pernah dilakukan niscaya membuahkan kebohongan lainnya. Tepat di sana, lingkaran setan kebohongan makin menjerat, membuat seseorang merasa bahwa “kebohongan” itu adalah hal lumrah, dan akhirnya merusak dirinya sendiri. Kisah ini menjadi penggambaran saja bahwa manusia bisa jatuh dalam sikap menyepelekan suatu kesalahan, berkompromi terhadap suatu kesalahan, mentolerir kesalahan, dan menganggapnya hanya kecil. Padahal semakin bertumpuk kesalahan-kesalahan yang dianggap lumrah itu, maka semakin besar pula persoalan yang ditimbulkan.
Situasi semacam itulah yang melahirkan konsekuensi rancangan penghukuman bagi umat Israel melalui panggilan kepada Nabi Yesaya. Mengapa Allah menghukum dan membinasakan umat? Bagaimana perjanjian antara Allah dan umat? Justru karena kesetiaan-Nya pada perjanjian itulah Allah tidak bisa membiarkan umat terus hidup dalam kebobrokan. Namun perlu kita ketahui bahwa penghukuman ini bukan pembinasaan individu secara membabi buta, melainkan pembongkaran terhadap tatanan hidup umat, yaitu cara hidup yang sudah sangat rusak, ibadah yang hanya semata-mata ritual, kepemimpinan yang curang, dan tatanan sosial yang penuh ketidakadilan. Semua itu berlangsung bukan hanya satu kali dua kali, tetapi berulang kali. Dalam budaya Jawa, tidak kurang nampaknya untuk menyebutnya sebagai “kebangeten” bahkan sangat kebangeten.
Kendati demikian penghukuman ini bukanlah akhir dari segalanya. Ayat 13 menunjukkan adanya tunggul yang tersisa yang melambangkan sisa kecil yang akan menjadi benih pembaruan. Di tengah kehancuran, Allah tetap menyediakan harapan. Allah bukan hanya menuntut perubahan tindakan dari umat-Nya tetapi juga pada perubahan tatanan batin, yaitu pola pikir yang bengkok, kebiasaan yang buruk, sistem nilai yang dianggap biasa padahal menyesatkan. Ketika bagian-bagian itu dibiarkan bahkan dilanggengkan, maka sama saja sedang memelihara benih-benih kerusakan yang lambat laun terus menggerogoti dan berakhir dengan kehancuran. Sebagaimana perumpamaan pohon beringin dan pohon jawi-jawi, Allah tidak sedang mengganti tanamannya, tetapi membuang segala yang busuk agar tunas yang tersisa dapat bertumbuh dengan lebih baik. Bukan karena Ia kejam, tapi karena Ia rindu membentuk umat-Nya kembali menjadi umat yang setia, benar, dan hidup dalam keutuhan.
Berdasarkan Yesaya 6 ini, kita diajak melihat pada diri kita sendiri tentang bagaimana kehidupan kita di hadapan Allah. Adakah kesalahan dan dosa yang mestinya kita jauhi namun malah kita pelihara? Adakah kita masih merasa bahwa kesalahan dan dosa itu ada yang kecil dan ada yang besar, dan karena itu yang kecil maka bisa dimaklumi? Mungkinkah kita tanpa sadar sudah membangun pola pikir dan cara hidup yang membenarkan ketidakjujuran, kemunafikan, atau kepentingan diri sendiri? Rasa-rasanya amatlah perlu kita hati-hati dan menyadari bahwa dari sanalah kehidupan kita mulai rusak, bukan dalam satu tindakan besar, tapi dalam kebiasaan kecil yang terus dilanggengkan.
Hari ini, mari kita berhenti menoleransi dan berkompromi terhadap sesuatu yang memang keliru, dosa, dan merugikan. Kalau kita sadar bahwa ada niat hati yang salah, pikiran jahat dan curang, kebiasaan yang buruk, atau kepura-puraan dalam relasi kita dengan Allah dan sesama, jangan tunggu semuanya seperti bom waktu yang akan meledak di kemudian hari dan menghancurkan diri kita sendiri. Mari kita runtuhkan sekarang juga berbagai hal buruk dalam hidup kita itu. Bukan demi rasa bersalah lalu semata-mata jadi yem-yem orang lain, bukan demi tidak dihukum Allah, melainkan karena kita mau dibangun kembali oleh Allah di atas dasar yang benar, kesetiaan, kejujuran, dan ketulusan di hadapan-Nya. Kalau dipikir-pikir, bukankah manusianya yang merusakkan diri sendiri? Lantas mengapa Allah yang mau “repot-repot” membangun kembali si manusia itu di atas dasar yang benar? “Kenapa yaaa?” Selamat merasa-rasakan.
Doa:
Dimuliakanlah Engkau ya Allah kami sekarang dan sepanjang masa. Kami mensyukuri kasih dan kebaikan-Mu melalui firman yang telah kami dengar. Kami mau untuk dibangun kembali oleh-Mu di atas dasar yang seturut kehendak-Mu. Kepada-Mu sajalah kami bersyukur dan berdoa. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).