Bacaan: Ulangan 26:1-15.
“Lalu Tuhan membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat. Ia membawa kami ke tempat ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.” (Ulangan 26: 8-9).
Renungan:
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus, pernahkan kita membayangkan bagaimana jika kita hidup seorang diri dalam suatu keadaan, pada suatu tempat tanpa ada orang lain? Tentu, mungkin ada yang pernah membayangkan atau bahkan mungkin ada yang tidak terpikirkan sama sekali. Kodrat manusia adalah sebagai makhluk sosial yang mana selalu ada keadaan yang memerlukan bantuan dari orang lain. Lalu apa yang menjadi hubungan dari ayat bacaan kita ini?
Dari bacaan yang terambil dalam Kitab Ulangan 26:1-15 menggambarkan dua tindakan penting yang harus dilakukan bangsa Israel kala itu ketika mereka telah memasuki Tanah Perjanjian. Tindakan pertama, mereka diminta untuk mempersembahkan hasil panen yang paling awal kepada Tuhan dan tindakan kedua adalah mereka harus memberikan persembahan persepuluhan bagi orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda. Menariknya, sebelum mempersembahkan hasil panen, orang Israel harus mengingat kembali perjalan hidup mereka. Mereka mengakui bahwa nenek moyang mereka hanyalah pengembara, pernah menjadi budak di Mesir, tetapi Tuhan mendengar seruan mereka kemudian membebaskan mereka dengan tangan yang kuat dan membawa mereka ke negeri yang lebih baik bahkan disebutkan ke negeri yang berlimpah susu dan madu.
Pesan ini mengajarkan bahwa ucapan syukur lahir dari hati yang mengingat karya Tuhan. Dari hal kecil yang sehari-hari kita rasakan mulai dari udara yang kita hirup cuma-cuma, bisa bertemu dengan orang tua setiap hari, dengan anak, dengan saudara kandung, bisa bercengkrama dengan tetangga sebenarnya bagian dari hal kecil karya pertolongan Tuhan yang kadang tidak kita sadari menjadi sesuatu yang harus disyukuri. Dan bisa jadi kehadiran kita pula menjadi suatu berkat bagi orang lain disekitar kita.
Ketika seseorang melupakan pertolongan Tuhan, rasa syukur mudah berubah menjadi kesombongan, seolah-olah semua keberhasilan diperoleh karena usaha sendiri. Sebaliknya, mengingat penyertaan, pertolongan Tuhan menumbuhkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa setiap berkat berasal dari Tuhan. Rasa syukur tentu tidak berhenti pada kata atau ibadah semata, dalam bagian ini Tuhan menghendaki agar berkat yang kita terima juga menjadi berkat bagi sesama, terutama mereka yang lemah dan berkekurangan. Iman yang sejati hendaknya selalu diwujudkan dalam kepedulian.
Tuhan telah memberikan keselamatan, pemeliharaan, pekerjaan, keluarga dan banyak berkat lainnya. Mari kita syukuri dan merespon karya Tuhan dalam hal ini dengan tetap hidup taat, memberi dengan sukacita, serta memperhatikan kebutuhan orang lain. Ketika mengingat kasih karunia Tuhan setiap hari, kita akan lebih mudah hidup dalam syukur, kemurahan hati dan ketaatan.
Doa:
Tuhan yang penuh kasih, Tuhan yang bertahta dalam Sorga yang maha mulia, terima kasih atas karunia yang selalu Engkau berikan dalam kehidupan kami. Ya Allah, mampukan kami untuk selalu berdampak dengan dipenuhi rasa syukur dan ketaatan padaMu. Mampukan kami agar tidak melupakan karya-Mu dalam hidup kami. Biarkanlah setiap firman dan berkat yang kami terima juga dapat memberkati sesama kami, serta biarkanlah hidup kami menjadi saksi tentang kasih dan kebaikan-Mu yang senantiasa menyertai kami. Inilah seru doa kami Tuhan kiranya Engkau berkenan, dalam Nama-Mu kami berdoa, Amin. (Ristiana Saputri – Gunungsari).



