Meneladankan Kasih, Mewariskan Iman

Bacaan: 1 Tesalonika 2:1-8.

 

Bacaan Lainnya

Renungan:

Jemaat yang terkasih, sebagian besar dari kita pasti tahu lagu “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia.” Secara ringkas, lagu ini menyiratkan relasi yang erat antara ibu dan anaknya, di mana relasi itu diwarnai oleh cinta sang ibu yang tak pernah putus dan tulus adanya tanpa mengharap imbalan. Semua semata-mata demi kebaikan sang anak. Lagu ini tentu saja tak muncul begitu saja, pastilah kemunculannya dilandasi oleh suatu pengalaman di mana kasih ibu memang betul-betul hadir nyata dan terasa sehingga menginspirasi Mochtar Embut menciptakan lagu ini. Kasih yang sungguh nyata dan terasa, itu pula yang hendak ditegaskan oleh Paulus dalam bacaan kita hari ini.

Paulus menulis surat ini sebagai penggembalaan dan penguatan kepada jemaat di Tesalonika yang mengalami pergumulan, salah satunya ialah tuduhan yang dialamatkan kepada Paulus tentang keraguan terhadap dirinya dan penginjilan yang dilakukannya. Bukan tidak mungkin, tuduhan yang meragukan Paulus dan karyanya tersebut dapat menggoyahkan iman percaya jemaat di Tesalonika. Namun mari perhatikan bagaimana Paulus merespons semua sentimen negatif yang dialamatkan kepadanya. Tak ada satupun kalimat di mana ia menyerang balik para penuduh itu. Ibaratnya jari, ia tak menunjuk pada pihak yang menyerang dirinya. Justru sebaliknya, ia dengan tenang menjelaskan dan meyakinkan kepada jemaat di Tesalonika dengan bukti-bukti yang sesungguhnya telah mereka alami dan saksikan sendiri.

Bila diurutkan dari awal, Paulus menyadari bahwa penginjilan menghadapi tantangan sebagaimana ia pernah dianiaya. Namun karena penginjilan ini adalah kehendak Allah sendiri, maka tantangan tersebut dapat dilalui. Lebih dari itu, juga menjadi dasar bahwa penginjilan yang dilakukan Paulus adalah demi kehendak Allah dan bukan demi kepentingan dirinya sendiri. Tak satupun upaya pemberitaan Injil oleh Paulus dilakukan demi keuntungan dirinya dengan menjadikan orang-orang di Tesalonika sebagai “komoditas” – karena memang ada orang-orang yang mencari uang dan popularitas pada zaman itu dengan cara menipu masyarakat menggunakan kata-kata yang manis. Justru sebaliknya, Paulus berlaku ramah layaknya seorang ibu mengasihi dan merawat anaknya. Dengan kata lain, Paulus tak sekadar memberitakan Injil agar orang-orang semata-mata percaya saja, tetapi Paulus menghadirkan Injil itu dalam bentuk yang nyata, yaitu melalui sikap hidup penuh perhatian, peduli, dan tindakan kasih yang nyata kepada orang-orang di Tesalonika. Ia tidak sekadar berkata-kata tentang kasih, tetapi mewujudnyatakan kasih itu dalam tindakan yang nyata sebagai bentuk ketaatan dan iman percaya kepada Tuhan.

Jemaat yang terkasih, inilah yang dimaksudkan oleh tema kita hari ini “Meneladankan Kasih – Mewariskan Iman.” Iman percaya tidak cukup hanya diajarkan melalui kata-kata, tetapi perlu dibuktikan melalui sikap hidup yang nyata. Sebagaimana Paulus tidak hanya memberitakan Injil, tetapi juga menghadirkan Injil itu melalui perhatian dan kesediaannya memberikan diri mengasihi jemaat. Sesungguhnya, apa yang kita ajarkan kepada keluarga akan menjadi semakin bermakna ketika mereka juga menyaksikan dan mengalami kasih itu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, mewariskan iman bukan sekadar memastikan generasi berikutnya mengetahui “ajaran tentang Tuhan”, melainkan juga memberikan teladan nyata tentang bagaimana hidup dalam kasih Tuhan.

Minggu ini adalah minggu terakhir dalam penghayatan Bulan Keluarga tahun 2026 dengan tema besar “Keluarga sebagai Agen Pelayanan Kasih”. Kita telah belajar banyak hal menjadi agen pelayanan kasih, yakni menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap keluarga, menjadi orang yang menjaga relasi sehat terhadap keluarga, menjadi orang yang berlaku adil terhadap keluarga, dan hari ini kita dipanggil menjadi orang yang selalu sedia mewujudnyatakan kasih di tengah kehidupan keluarga. Firman Tuhan dalam 1 Tesalonika telah menunjukkan, kita perlu senantiasa belajar untuk mengendalikan diri dan tidak buru-buru alias tetap tenang dalam menghadapi sesuatu. Cepat-cepat menunjuk orang lain dan menyalahkannya memang mudah, tapi umumnya itu tak menyelesaikan masalah. Maka mari kita belajar menerapkan komunikasi asertif. Apa itu? Gaya komunikasi di mana kita menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur, jelas, dan tegas tanpa merendahkan, menyakiti, atau mengabaikan hak orang lain. Saat berbeda pendapat, tunjuklah diri sendiri (I – Statement) “Aku tadi marah karena baru pulang, belum minum, belum beres-beres, udah langsung disuruh ini dan itu. Aku itu mau membantu, tapi tunggulah aku beres-beres dulu.”

Berikutnya, apa yang kita katakan dan ajarkan di tengah keluarga, ya marilah kita lakukan pula. Bicara yang jujur satu sama lain, mau mengaku salah dan minta maaf ketika berbuat salah, berterima kasih ketika sudah ditolong, tidak memotong dan menyepelekan cerita anggota keluarga, kalau sudah janji ditepati, dan masih banyak lagi. Kata-kata harus selalu berbanding lurus dengan perbuatan. Itulah butki nyata dari meneladankan kasih-mewariskan iman. Selamat damai sejahtera bersama keluarga. Tuhan beserta. Amin.

Doa:

Kami bersyukur Engkau berkenan menasihatkan kami melalui kebenaran Firman-Mu saat ini. Kami bersedia untuk mewujudnyatakan kasih-Mu dalan perbuatan yang nyata kepada sesama kami. Tolonglah kami dan perlengkapi kami dengan hikmat-Mu sehingga kami sungguh-sungguh mampu meneladankan kasih dan mewariskan iman yang teguh kepada generasi mendatang. Semua kembali demi hormat dan kemuliaan bagi nama-Mu ya Tuhan. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).

 

 

Pos terkait